Beranda | Artikel
Dzikir dengan Nama dan Sifat Allah
3 hari lalu

Dzikir dengan Nama dan Sifat Allah adalah kajian Fiqih Do’a dan Dzikir yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Kajian ini beliau sampaikan di Masjid Al-Barkah, komplek studio Radio Rodja dan Rodja TV pada Selasa, 2 Rajab 1447 H / 23 Desember 2025 M.

Kajian Tentang Dzikir dengan Nama dan Sifat Allah

Dzikir terbagi menjadi dua macam:

Dzikir dengan Nama dan Sifat serta Mensucikan Allah

Macam yang pertama adalah berdzikir dengan nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya yang agung, serta mensucikan Allah dari sifat-sifat yang tidak layak bagi-Nya. Dzikir jenis ini mencakup dua hal:

Pertama, Memuji Allah dengan pujian yang disyariatkan.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

أَحَبُّ الْكَلَامِ إِلَى اللهِ أَرْبَعٌ: سُبْحَانَ اللهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ

“Ucapan yang paling dicintai oleh Allah ada empat: Subhanallah, Alhamdulillah, Laa ilaha illallah, dan Allahu Akbar.” (HR. Muslim).

Selain itu, terdapat dzikir seperti Subhanallahi wa bihamdih, Subhanallahil ‘Adzim, atau membaca Subhanallahi wa bihamdih sebanyak seratus kali pada waktu pagi dan petang, serta ucapan Laa haula walaa quwwata illaa billah. Inti dari semua dzikir ini adalah memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Salah satu dzikir yang paling utama adalah:

سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ عَدَدَ خَلْقِهِ وَرِضَا نَفْسِهِ وَزِنَةَ عَرْشِهِ وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ

“Maha Suci Allah dengan memuji-Nya sebanyak jumlah makhluk-Nya, sesuai dengan keridaan diri-Nya, seberat ‘Arasy-Nya, dan sebanyak tinta kalimat-kalimat-Nya.” (HR. Muslim).

Dzikir tersebut memiliki keutamaan yang luar biasa. Imam Muslim meriwayatkan dari Juwairiyah Radhiyallahu ‘Anha bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam keluar dari rumah setelah shalat Subuh sementara Juwairiyah masih duduk berdzikir. Ketika Rasulullah pulang saat matahari sudah tinggi, Juwairiyah masih di tempat yang sama. Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda bahwa beliau telah mengucapkan empat kalimat sebanyak tiga kali yang jika ditimbang, nilainya menyaingi dzikir yang dibaca Juwairiyah sejak pagi.

Keutamaan serupa terdapat dalam hadits Abu Umamah al-Bahili. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menunjukkan dzikir yang lebih banyak dan utama daripada dzikir semalam suntuk, yaitu:

سُبْحَانَ اللهِ عَدَدَ مَا خَلَقَ، وَسُبْحَانَ اللهِ مِلْءَ مَا خَلَقَ، وَسُبْحَانَ اللهِ عَدَدَ مَا فِي الْأَرْضِ وَالسَّمَاءِ، وَسُبْحَانَ اللهِ مِلْءَ مَا فِي الْأَرْضِ وَالسَّمَاءِ، وَسُبْحَانَ اللهِ عَدَدَ مَا أَحْصَى كِتَابُهُ، وَسُبْحَانَ اللهِ عَدَدَ كُلِّ شَيْءٍ، وَسُبْحَانَ اللهِ مِلْءَ كُلِّ شَيْءٍ، وَتَقُولُ: الْحَمْدُ للهِ مِثْلَ ذَلِكَ

“Maha Suci Allah sebanyak jumlah makhluk yang Dia ciptakan. Maha Suci Allah sepenuh apa yang Dia ciptakan. Maha Suci Allah sebanyak apa yang ada di bumi dan di langit. Maha Suci Allah sepenuh apa yang ada di bumi dan di langit. Maha Suci Allah sebanyak apa yang tercatat dalam kitab-Nya. Maha Suci Allah sebanyak segala sesuatu. Maha Suci Allah sepenuh segala sesuatu. Dan ucapkanlah ‘Alhamdulillah’ dengan susunan kalimat yang serupa.” (HR. Ahmad, An-Nasa’i, dan Al-Hakim).

Dzikir ini dibaca pula dengan kalimat Alhamdulillah dengan susunan yang sama. Ucapan ini lebih utama daripada dzikir seharian semalaman.

Kedua, Mengabarkan tentang Hukum, Nama, dan Sifat Allah

Macam yang kedua adalah mengabarkan tentang Allah ‘Azza wa Jalla melalui konsekuensi nama dan sifat-Nya. Contohnya adalah menyatakan bahwa Allah mendengar suara hamba-hamba-Nya sebagai konsekuensi dari nama-Nya, As-Sami’. Contoh lainnya adalah Allah melihat gerakan seluruh makhluk-Nya dan tidak ada satu pun amal yang tersembunyi bagi-Nya.

Termasuk dalam jenis ini adalah mengabarkan tentang luasnya kasih sayang Allah. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengabarkan bahwa Allah lebih sayang kepada hamba-Nya melebihi kasih sayang seorang ibu kepada anaknya. Allah ‘Azza wa Jalla juga sangat gembira dengan taubat hamba-Nya. Kegembiraan Allah melebihi kegembiraan seseorang yang kehilangan untanya di padang pasir yang membawa perbekalan makan dan minumnya. Setelah berputus asa dan pasrah menunggu kematian, tiba-tiba unta tersebut kembali berada di sampingnya. Saking gembiranya, orang tersebut salah berucap, “Ya Allah, Engkau hamba-ku dan aku Tuhan-Mu.” (HR. Muslim).

Dzikir jenis kedua ini mencakup tiga unsur: pujian (hamdun), sanjungan (tsana’un), dan pengagungan (tamjid). Pujian (al-hamdu) adalah mengabarkan sifat sempurna Allah yang disertai dengan rasa cinta dan ridha.

Seseorang yang mencintai Allah tidak akan diam tanpa memuji-Nya. Pujian yang benar harus memenuhi dua syarat, yaitu menyertakan rasa cinta kepada-Nya dan memberikan sanjungan kepada-Nya.

Tiga unsur penting dalam hal ini adalah pujian (hamdun), sanjungan (tsana’un), dan pengagungan (tamjid). Ketiga unsur tersebut terangkum dalam Surah Al-Fatihah. Dalam sebuah hadits Qudsi, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengabarkan firman Allah ‘Azza wa Jalla mengenai hamba yang membaca Al-Fatihah dalam salatnya.

Ketika hamba mengucapkan: الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ “Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.” Allah menjawab: حَمِدَنِي عَبْدِي “Hamba-Ku telah memuji-Ku.”

Saat hamba berucap: الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ “Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” Allah berfirman: أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي “Hamba-Ku telah menyanjung-Ku.”

Ketika hamba berkata: مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ “Yang Menguasai Hari Pembalasan.” Allah berfirman: مَجَّدَنِي عَبْدِي “Hamba-Ku telah mengagungkan-Ku.”

Dzikir juga mencakup penyampaian informasi atau berita tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ketika seorang pengajar menyampaikan materi tentang sifat-sifat Allah dan mengabarkan kekuasaan-Nya, kegiatan tersebut tergolong sebagai zikir.

Berdzikir dengan cara menyebutkan perintah Allah, larangan Allah, dan hukum-hukum-Nya

Macam dzikir yang kedua adalah berdzikir dengan cara menyebutkan perintah Allah, larangan Allah, dan hukum-hukum-Nya. Hal ini merupakan inti dari belajar ilmu agama. Ilmu agama tidak terlepas dari tiga hal tersebut: perintah, larangan, atau hukum-hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala yang lain.

Dzikir jenis ini terbagi menjadi dua bagian:

Pertama, mengingat Allah melalui pengabaran syariat.

Hal ini dilakukan dengan mengabarkan bahwa Allah memerintahkan shalat, melarang perbuatan zina, mencintai amal shalih, atau murka kepada kekafiran. Mengingat hal-hal tersebut termasuk dalam dzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kedua, majelis ilmu sebagai majelis dzikir. Majelis ilmu yang menjelaskan tentang halal dan haram serta hukum-hukum syariat adalah majelis dzikir. Atha Al-Khurasani menyatakan:

“Majelis dzikir adalah majelis (yang membahas) halal dan haram.”

Beliau merinci bahwa majelis zikir mencakup pembahasan mengenai tata cara jual beli, cara melaksanakan shalat dan puasa yang benar, urusan pernikahan, tata cara perceraian, pelaksanaan haji, dan perkara-perkara serupa lainnya.

Download MP3 Kajian Tentang Dzikir dengan Nama dan Sifat Allah


Artikel asli: https://www.radiorodja.com/55926-dzikir-dengan-nama-dan-sifat-allah/